Di era ketika agama seringkali dijadikan lencana identitas politik alih-alih ranah refleksi spiritual, karya Muhamad Ali tentang tafsir metafisik tidak menawarkan dogma baru. Ia mengajukan undangan: bagaimana jika kita membaca teks-teks suci tidak hanya melalui lensa legalistik atau doktrinal, tetapi juga melalui perspektif metafisik, mistis, dan etis?
Al-Qur'an tetap konsisten dalam melarang spekulasi tentang siapa yang berhak menerima Rahmat Allah dan membuka kemungkinan bahwa non-Muslim juga dapat menerima karunia Ilahi berupa rahmat (rahmatan lil alamin).
Mengapa Tafsir Metafisik Penting Hari Ini
Bahasa keagamaan hari ini sangat volatile — dipersenjatai dalam pertarungan politik, digunakan untuk membenarkan eksklusi, atau digunakan untuk mengangkat bendera kesukuan. Namun di balik tuduhan dan berita utama, jutaan orang masih mengandalkan agama untuk orientasi, penghiburan, dan pembentukan moral.
Proposal Muhamad Ali mengajak pembaca memperlakukan metafisika bukan sebagai ornamen esoteris teologi, melainkan sebagai lensa praktis. Metafisika, dalam pemahaman ini, merujuk pada klaim tentang apa yang secara fundamental nyata — rahmat, transendensi, martabat — dan kerendahan hati interpretatif yang datang dari pengakuan akan keterbatasan manusia.
Ide Inti: Tiga Sumbu Tafsir Metafisik
A. Metafisika sebagai Fondasi
Hanya Allah (Yang Ilahi) yang mutlak; semua klaim manusia tentang cara kerja Ilahi bersifat relatif, terbatas, dan partikular. Tradisi Qur'ani sendiri mengakui berbagai manifestasi hukum agama (QS 5:48) dan menekankan martabat universal manusia (QS 49:13). Tafsir metafisik menggeser penekanan dari 'mencari pembenaran dogmatis' ke 'membangun norma perilaku bersama.'
B. Mistisisme dan Pengalaman Keagamaan
Pengalaman batin dan mistis merupakan sumber pemahaman keagamaan yang tidak bisa direduksi menjadi teks atau formula doktrinal. William James mendeskripsikan ciri-ciri pengalaman mistis:
- 1Kualitas noetis — rasa memahami wawasan sejati
- 2Ketidakterucapkan — kesulitan mengekspresikan dalam bahasa biasa
- 3Sifat sementara — sering berdurasi singkat
- 4Kepasifan — pengalaman datang kepada subjek tanpa diusahakan
Jika pengalaman keagamaan diperlakukan sebagai data yang sah, dialog antaragama dapat dimulai dari landasan pengalaman bersama alih-alih dari teks-bukti doktrinal.
C. Aksiologi Etis-Praktis
Tafsir metafisik bukan tujuan akhir; ia adalah instrumen untuk menghasilkan praktik sosial konkret — mengentaskan kemiskinan, memajukan keadilan, mencegah kekerasan berbasis agama, dan mempromosikan kesejahteraan publik.
Metodologi: Interkonektivitas Disiplin
Gerakan Ganda (Fazlur Rahman)
Penafsir bergerak dalam dua arah: turun dari persoalan kekinian untuk memulihkan konteks sosio-historis teks, lalu naik dari makna historis itu untuk mengekstrak wawasan universal yang dapat diterapkan hari ini.
Pendekatan Sistem (Jasser Auda)
Pendekatan maqasid memperlakukan teks suci sebagai bagian dari sistem yang bertujuan melindungi kesejahteraan kolektif (hifz al-din, al-nafs, al-'aql, al-nasl, al-mal). Jika suatu penafsiran merongrong tujuan sistemis, ia perlu dipertimbangkan ulang.
Integrasi Interdisipliner
- Gunakan fenomenologi dan studi mistis untuk mengambil pengalaman keagamaan batin secara serius sebagai data
- Konsultasikan sejarah tafsir untuk memetakan respons klasik dan gerakan hermeneutis mereka
- Terapkan metode ilmu sosial untuk mengukur bagaimana kerangka interpretatif mempengaruhi kohesi sosial
- Gabungkan lensa-lensa ini untuk mengubah klaim interpretatif menjadi hipotesis yang dapat diuji
Lima Kluster Tematik
1. Kesatuan Umat Manusia
Keragaman dibingkai sebagai sunnatullah; etika sosial saling pengakuan dan penghormatan menjadi imperatif. Implikasi praktis: ajarkan ritual sipil saling pengakuan melalui festival bersama, proyek pelayanan komunitas, dan kurikulum yang menjelaskan perbedaan tanpa karikatur.
2. Pluralitas Hukum Agama
Agama-agama dapat berbagi tujuan eksistensial sambil menunjukkan resep hukum yang beragam. Mengakui pluralitas ini tidak melarutkan keyakinan; ia meminta kesantunan dan kompromi yang dinegosiasikan.
3. Klaim Kebenaran dan Persaingan
Tantangannya bukan berpura-pura perbedaan pendapat tidak ada, tetapi mengelola persaingan agar tidak bermetastasis menjadi dominasi atau kekerasan.
4. Tegangan Doktrinal
Pendekatan metafisik mendorong kritik tetapi menolak mempersenjatai kritik sebagai eksklusi sosial. Kembangkan kerangka pengajaran yang menjelaskan doktrin yang diperdebatkan secara historis.
5. Iman dan Amal sebagai Penanda
Ruang tekstual ada untuk penafsiran yang memandang iman dan amal saleh sebagai indikator utama nilai spiritual — membuka ruang teologis untuk pengakuan melampaui batas-batas konfesional.
Kekuatan yang Patut Diapresiasi
- Keseimbangan antara teks dan pengalaman — menolak baik literalisme kaku maupun relativisme tanpa prinsip
- Etika sebagai telos penafsiran — penafsiran sebagai sarana perbaikan sosial
- Dialog intelektual yang jujur — menyambut dialog lintas tradisi pemikiran tanpa meninggalkan akar intelektual Islam
- Kerendahan hati epistemis — memupuk empati dan pengendalian diri reflektif
Untuk bergerak melampaui polemik atau apologetik, mengakui keterbatasan pemahaman manusia dan mengembalikan wacana teologis ke ranah keyakinan individual dan tanggung jawab di hadapan Tuhan.
Kritik Konstruktif
Tidak ada kerangka kerja yang sempurna. Pendekatan ini membutuhkan landasan yang lebih kokoh untuk menyertakan tradisi non-Abrahamic, perlindungan politik konkret terhadap kooptasi, desain operasional untuk kerja interdisipliner, dan keterlibatan serius dengan teks-teks yang kontroversial.
Kesimpulan
Tafsir metafisik lintas agama bukan latihan kapitulasi teologis. Ia adalah strategi intelektual-etis yang bertujuan memperbaiki kehidupan sosial. Ia meminta dua hal yang saling melengkapi dari kita: keberanian intelektual untuk mempertanyakan kepastian manusia, dan komitmen moral untuk bertindak demi kebaikan bersama.
Barakallahufiik... والله أعلم بالصواب
